Pedagang Kecil di Sabang Ditelantarkan, Dinas Terkait Lepas Tangan
(Foto ilustrasi: bersamatoba.com)
Sabang - Dimana
pun nasib orang kecil selalu tertindas baik oleh kepentingan pihak
tertentu maupun atas kepentingan pejabat, hal tersebut seperti yang
dirasakan sejumlah pedagang kecil di Sabang yang layaknya bagaikan
kucing beranak harus digotong kesana-kemari. Padahal mereka merupakan
rakyat jelata yang perlu perhatian semua pihak.
Ketika
rakyat kecil menghadapi masalah dalam memperjuangkan kehidupan, tidak
ada yang turut perhatian terhadap kondisi yang mereka alami. Seperti
yang terjadi terhadap sejumlah pedagang makanan di Sabang, mereka kini
sudah tidak tahu lagi kemana harus mengadu atas ketidak perdulian
pemerintah setempat.
Muchtar
(55) tahun misalnya, dia harus mengangkut kesana-kemari peralatan
dagangannya akibat pembongkaran lapak tempat jualannya. Menurut Muchtar
yang mewakili rekan-rekan pedagang senasib dengannya, mereka kini tidak
tahu lagi harus mengadu kemana, setelah sebelumnya menyampaikan kepada
Dinas Perdagangan, Industri dan UKM (Disperindag) Kota Sabang, namun
tidak digubris.
“Kami
ini tidak dianggap sebagai rakyat Sabang, pasalnya setelah kami
menyampaikan keluhan kepada Disperindag dan Pj.Walikota, nyatanya sampai
sekarang tidak ada perhatian terhadap nasib yang kami alami. Dulu
Disperindag sendiri yang memindahkan kami dari satu lokasi ke lokasi
lain, tetapi begitu terjadi masalah seperti ini dinas tersebut lepas
tangan,” ungkap Muchtar kepada AtjehLINK Rabu (20/6) di Sabang.
Dikatakannya,
pada awalnya 50 lebih pedangan makanan yang berjualan di lokasi Pusat
Jajanan Selera Rakyat (Pujasera), Gampong Kuta Meuyub Timu, Kecamatan
Sukakarya, Kota Sabang, dipindahkan ke arena Sabang Fair persisnya di
samping gedung Dekranas. Namun seluruh pedagang yang sudah mengeluarkan
biaya besar untuk pemindahan dan pembenahan lokasi, tidak ada pengunjung
yang mau datang kesitu.
Akhirnya,
sebut Muchtar, mereka menemui dinas terkait untuk menyampaikan keluhan
yang pedagang alami, tujuannya supaya pedagang yang berjualan di arena
dimaksud dapat dipindahkan ke kawasan kota. “Ternyata keluhan kami
sampai sekarang tidak digubris oleh Disperindag, sehingga kami pun
dengan sendirinya pindah mencari lokasi di dalam kota,” ujarnya lirih.
Sebagian
pedagang mendapat lokasi yang dibangun Koperasi Teupin Jareng di
pinggiran pagar dermaga BPKS, sedangkan lainnya kucar-kacir cari lokasi
sendiri. “Kemudian ada pengusaha pemilik gudang memberi izin untuk
tempat kami jualan, tetapi tidak berjalan lama sebab Satpol-PP mendapat
perintah untuk mengusur kami dari lokasi tersebut,” tambah Muchtar.
“Padahal
kami juga sudah mendatangi kantor Walikota, disana kami mendapat
keterangan dari Pj.Walikota Drs.H.Zukifli Hasan, MM, bahwa lokasi
dimaksud memang tidak boleh digunakan sebagai tempat jualan meskipun
pemilik gudang mengizinkan. Kami disarankan untuk melayangkan surat
kepada lembaga BPKS, tetapi sampai saat ini belum juga ada jawaban,”
sebut Muchtar.
Hal
yang sama juga dialami Musa (50), menurut pedagang nasi bebek ini,
sejak mereka dipindahkan ke arena Sabang Fair, jangankan untung, modal
pun habis, maka disepakati untuk pidah dari lokasi tersebut. Disana
tambah Musa, selain lokasi jauh dari pusat kota dan juga ketika musim
angin tiba kursi meja pun ikut terbang, sehingga tidak ada pembeli yang
datang.
“Siapa
yang mau datang makan di tempat seperti itu, selain jauh dari pusat
kota dan juga angin dari laut sangat kencang, itu belum lagi hujan. Maka
kami sepakat pindah dari arena Sabang Fair, namun hengkang kami dari
sana menjadi momok bagi koperasi itu sendiri sehingga dimana pun kami
berjualan diminta supaya Pemko Sabang mengusir kami,” tandas Musa.
Sedangkan
Ketua Koperasi Teupin Jareng sangat sulit ditemui, namun keterangan
dari sejumlah sumber, ketua koperasi tersebut mulai bingung sebab tim
dari Jakarta segera turun untuk melihat bangunan yang didanai Menteri
Koperasi UKM itu terhadap azas mamfaatnya. Menurut keterangan, selama
ini proyek yang dikelola koperasi dimaksud dikabarkan sangat tertutup
dalam proses pembangunannya.
Sementara
itu Pj.Waliklota Sabang Drs.H.Zulkifli Hasan, saat dikonfirmasi media
ini mengatakan, memang benar ada sejumlah pedagang yang berjualan di
lokasi Sabang Fair mengadukan nasibnya ke Pemko Sabang. “Saya meminta
mereka agar membuat surat yang ditujukan kepada Badan Pengusahaan
Kawasan Sabang (BPKS) untuk meminjam sementara gudang kosong yang
terletak di dermaga teluk Sabang,” ujarnya.
“Ya
benar saya sudah menerima laporan tentang keluhan pedagang kecil
dimana, dalam beberapa terakhir mereka tidak berjualan di lokasi
terlarang tersebut. Namun saya mengarahkan supaya mereka menyurati BPKS
untuk mendapat pinjaman sementara lokasi gudang yang sebelumnya juga
dipakai sebagai pasar sayur,” kata Zulkifli Hasan.
Zulkifli
mengaku, setelah menerima laporan pedagang dimaksud pihaknya juga telah
menghubungi pejabat BPKS untuk menampung sementara pedagang yang pindah
dari arena Sabang Fair. “Saya yakin BPKS untuk sementara waktu sambil
menunggu proses pembangunan Pujasera BPKS akan mengijinkan pedagang
tersebut berjualan di lokasi gudang itu,” tambahnya.
Disisi
lain, Pj Walikota menerangkan terjadinya masalah yang dihadapi para
pedagang makanan itu akibat Disperindag yang tidak konsen terhadap
pedagang kecil karena seluruh pedagang yang ada, mereka bernaung dibawah
Disperindag, tetapi kenapa Dinas tersebut terkesan lepas tangan dan
membiarkan pedagang kocar-kacir.
“Saya
sangat menyesalkan atas sikap Kepala Dinas Perdagangan itu, yang
membiarkan pedagang kecil sampai menderita. Seharusnya jika terjadi
persoalan seperti ini, Kadis mencari solusi dengan berkoordinasi dengan
saya, namun saya sendiri baru tahu dimana sejumlah pedagang kecil bagai
kucing bawa anaknya,” ujar Pj Walikota.
Sementara
pejabat BPKS Jufri sebagai pejabat SPI sampai berita ini diturunkan
tidak berhasil ditemui, bahkan Hand Phone (HP) miliknya beberapa kali
dihubungi sedang tidak aktif. (jalal)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar